17.12.10

Allah Is Fair

Yupe. I think everyone knows that Allah is fair to every single thing He creates. He never let everyone hates each other. Why is that?

In our live, there's an opportunity that we like some people, while on the other hand we hates the rest. But trust me, there will come a moment when the people that you hate, even the most, will have good, or perhaps the best contribution in your life. Therefore, how could you hate those people?

What a life!

5.12.10

Naturalisasi = Sengsara Membawa Nikmat

Naturalisasi, sepenggal kata yang sebenarnya masih bersifat abu-abu bagi saya. Kalau saya lihat dari sebuah sumber, naturalisasi dapat bermakna pemberian status warga negara asli kepada seorang Warga Negara Asing (WNA). Tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika seorang WNA ingin menjadi warga negara asli.

Di Indonesia, terdapat beberapa syarat tertentu jika seorang WNA ingin menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Syarat-syaratnya bisa dilihat pada Pasal 9 UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Tidak kompleks sebenarnya, hanya saja perlu menunggu waktu yang cukup lama bagi seorang WNA untuk bisa menjadi WNI: minimal 5 tahun berturut-turut tinggal di Indonesia atau 10 tahun tidak berturut-turut tinggal di Indonesia.

Pasal 9 ini mendapatkan perkecualian dalam Pasal 20 UU yang sama (setidaknya inilah anggapan saya setelah merunut satu per satu pasal yang ada dalam UU tersebut). Jika seorang WNA telah berjasa kepada NKRI atau terdapat suatu kepentingan negara, maka ia dapat menjadi WNI setelah adanya pertimbangan tertentu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan demikian, adalah suatu hal yang mudah bagi seorang WNA untuk menjadi WNI.

Ternyata hal inilah yang dimanfaatkan oleh PSSI beberapa saat belakangan ini. Seperti yang sebagian besar dari kita ketahui, dalam Tim Nasional Senior PSSI yang sedang berlaga di AFF Suzuki Cup saat ini, ada beberapa pemain yang merupakan hasil dari proses naturalisasi ini, antara lain duet maut penyerang Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Christian Gonzales yang asli Uruguay dan Irfan Bachdim yang keturunan Belanda berhasil menyumbangkan goal ke gawang lawan dalam 2 pertandingan di babak penyisihan Grup A AFF Suzuki Cup.

Masuknya 2 pemain ini membawa dampak dicadangkannya pemain langganan penyerang Tim Inti Nasional Senior PSSI, Bambang Pamungkas. Namun, pada kenyataannya saya memang melihat adanya dampak positif untuk nama baik Indonesia. Bayangkan saja, dengan tambahan beberapa pemain hasil proses naturalisasi, Indonesia bisa membantai Malaysia dan Laos, dengan permainan yang cukup bagus pula. Lumayan untuk level pertandingan Asia Tenggara (semoga akan sama bagusnya jika Tim Nasional kita berlaga di level Asia). Kenikmatan tersendiri bagi seluruh Warga Negara Indonesia tentunya, setelah beberapa lama sebelumnya menyaksikan Tim Nasional PSSI bagaikan macan kehilangan taringnya.

Tetap saja saya tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh seorang Bambang Pamungkas, atau pemain lainnya yang tergusur menjadi pemain cadangan. Di dalam hati nuraninya, Bambang mungkin saja merasakan ketidakadilan ketika dirinya tidak lagi menjadi bagian dari tim inti. Mungkin saja ia merasa lebih berhak membela Indonesia oleh sebab dialah yang warga negara asli Indonesia, bukan Christian Gonzalez ataupun Irfan Bachdim. Darah murni garuda mengalir dalam tubuhnya tanpa cela. Mungkin saja seorang Bambang Pamungkas merasakan kesengsaraan akibat tersisihnya dia dari posisi sebelumnya.

Namun, rupanya Bambang Pamungkas merasa ikhlas dengan hal tersebut. Mau tidak mau ia memang harus mengakui bahwa Christian dan Irfan memang lebih baik dari dirinya. Nama Indonesia pun menjadi harum oleh karena keduanya merupakan tulang punggung dari 2 kemenangan mudah yang diperoleh Indonesia dalam 2 pertandingan terakhir. Sudah seharusnya pula bahwa dengan keberadaan kedua rekannya itu di tim inti, justru membuka matanya bahwa ia harus bisa meningkatkan performansinya lebih dari yang sekarang. Semangat untuk Bambang, juga para pemain lainnya!

Jadi, masihkah naturalisasi menjadi kesengsaraan yang membawa nikmat? Tergantung dari sudut pandang setiap orang yang melihatnya. Sebagai WNI, saya mendukung proses naturalisasi ini, selama hal ini dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi.

BERKIBARLAH INDONESIAKU!

12.11.10

Cerita (1-5)

Anda mencondongkan badannya ke depan, bermaksud mendahului Rini untuk membukakan pintu cafe. Tangan kirinya mendorong pintu cafe ke arah luar, sementara tangan kanannya mempersilakan Rini untuk keluar terlebih dahulu.

"Thank you, Nda," kata Rini sambil kemudian terlebih dahulu keluar dari cafe.

Anda hanya menyunggingkan bibirnya sedikit. Setelah dirinya melangkah keluar dari tempat kerjanya, ia berjalan ke arah tempat parkir motor. Tangan kirinya merogoh saku celana jeans-nya, mengeluarkan kunci motor. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk mengajak Rini berjalan-jalan dengan motornya. Tatapan matanya tetap mengarah ke depan.

Sementara itu, Rini mengikutinya dari belakang. Dirinya bertanya di dalam hati, "Gue baru aja kenal sama cowok ini. Tapi kenapa gue mau aja, ya, diajak dia jalan-jalan?"

Rini merasa heran dengan dirinya sendiri. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengiyakan ajakan Anda. Ia juga heran dengan cara Anda yang sedikit banyak mampu mencairkan kebekuan hatinya setelah apa yang diperbuat Ali seminggu yang lalu. Baru mengenalnya beberapa jam saja, Rini sudah merasakan kenyamanan saat berada di dekat Anda.

Lebih kurang lima menit lamanya Rini dan Anda melangkahkan kaki mereka dalam diam. Keduanya berjalan menyusuri deretan bangunan ruko yang berjejer di sepanjang jalan itu. Sinar mentari senja yang mengintip malu-malu dari sela-sela bangunan pun tak sanggup meredakan kesunyian yang tercipat di antara Rini dan Anda.

Anda, seperti biasa, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. Pandangannya menelusuri sekitarnya sambil sesekali melirikkan matanya ke arah Rini. Sesekali pula terdengar siulan lagu-lagu kesukaannya dari mulutnya. Yang sebenarnya terjadi ialah Anda merasa grogi. Tak biasanya ia ditemani berjalan-jalan seperti saat ini. Oleh seorang perempuan pula.

Sementara itu, Rini bersikap lebih santai. Kedua belah tangannya tertangkup di depan perutnya. Pandangannya lebih mengarah ke deretan bangunan ruko di sekelilingnya. Tampak jelas dirinya begitu mengagumi bangunan-bangunan tersebut. Baru disadarinya bahwa selama ini ia tidak pernah sempat mengagumi kekokohan dan keunikan bangunan ruko-ruko di tempat itu. Arsitektur bangunan-bangunan itu memang menyerupai rumah-rumah yang dibangun pada masa kompeni Belanda masih meraja lela di Indonesia. Bahkan pintu-pintu dan kusen jendela-jendelanya pun masih menggunakan gaya arsitektur lama tersebut.

Anda mencoba membuka percakapan, "Kamu suka, ya, dengan bangunan-bangunan ini?"

Rini menoleh ke arah Anda sebelum menjawab, kemudian tersenyum. "Ayah saya arsitek, Nda," jawabnya. "Di rumah banyak banget buku-buku arsitektur gambar-gambar rumah, kebanyakan arsitektur gaya lama. Aku suka banget ngeliatin gambar rumah-rumah itu. Kesannya lebih anggun, tapi ga berarti lemah, tetap diiringi kekokohannya."

Anda pun menambahkan di dalam hati, "Ya, seanggun kamu, Rin. Kalau saja..."

"Kenapa kamu suka jalan-jalan di sini, Nda?" Rini bertanya pada Anda tiba-tiba.

Anda sedikit terkejut dengan pertanyaan Rini itu. Lamunannya buyar seketika. "Yaa.. ga jauh beda sama kamu, Rin. Kalau udah ngeliat bangunan-bangunan ini, pikiran aku biasanya langsung seger. Emang bangunannya indah banget."

"Ga heran kalau banyak orang yang suka ngabisin waktunya di sini, Nda," lanjut Rini.

Percakapan yang panjang terjalin di antara mereka. Sampai-sampai Anda lupa bahwa jam kerjanya belum usai. Ia masih harus kembali ke cafe dan melanjutkan pekerjaannya, setidaknya hingga 1 - 2 jam ke depan.

"Rin," kata Anda, "aku harus balik ke cafe. Nanti bisa-bisa bos aku ngomel-ngomel ke Aan kenapa aku ga balik-balik." Kalimat terakhir ini diakhiri Anda dengan senyuman yang memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi.

"Ga kerasa, Nda," Rini menanggapi Anda sambil melihat ke arah jam tangannya. "Sudah hampir Maghrib ternyata. Aku juga udah harus pulang ke rumah kalau ga mau ibuku khawatir."

"Rumah kamu di mana?" tanya Anda. "Saya anter kamu dulu aja sebelum balik ke cafe."

"Ga usah, Nda," sanggah Rini. "Rumah saya deket, kok, dari sini. Tinggal naik angkot sekali jalan." Telunjuk kanan Rini menunjuk satu angkutan umum yang sedang berhenti di depan halte menunggu penumpang.

"Ya udah," Anda berkata. "Saya balik duluan, ya, kalau gitu. Hati-hati, ya, Rin."

Rini tersenyum. "Thanks, Nda, udah mau nemenin saya."

"Sama-sama, Rin," Anda pun tersenyum, kemudian berjalan berbalik arah menuju ke cafe-nya.

Sementara itu, lama Rini memperhatikan Anda hingga ia tidak bisa lagi melihat sosoknya. Dalam lubuk hatinya, terdapat secercah harapan bahwa ia akan dapat bertemu dengan lelaki itu lagi. Setelah yakin bahwa ia sudah tidak dapat menangkap sosok Anda, barulah ia kemudian berjalan menuju angkutan umum di depan halte. Hatinya pun sudah bisa tersenyum kembali.

Bersambung

9.10.10

Love The Songs "Terlalu - Maliq &D'Essentials" and "Moving On - Andien"

I often hear both songs being played in the local radio. Love them both. Kindly find the lyrics:

Terlalu - Maliq & D'Essentials

Tak bisa terus menerus engkau menjaga
Perasaan hati yang terlena
Semakin lama semakin menyiksa

Reff:
Oh aku tak ingin terus terbelenggu
Dengan fikiran tak menentu
Sungguh aku tak bisa
Membuat ku terlalu
Jauh mengkhayalkan tentang kita
Ku disini sepertinya masih berharap
Meski tak mungkin ku menunjukkannya
Kenyataannya membuat ku sedikit gila.com

Terlalu lama kau buat aku menunggu
Setiap ku tanya kau pun tak tahu
Semua ini akan menuju


Moving On - Andien

Mungkin pernah ku menangis
Mungkin diriku pernah tersakiti
Namun diriku kini kembali
Coba nikmati indahnya dunia
Tiada lagi bayangan dirimu
Yang selalu mencoba menahanku

Reff:
Bersama mentari ku bernyanyi
Mewarnai hari-hari
Bersama pelangi ku menari
Menyambut bebasnya hati ini
Tiada lagi yang mampu menghalangi
Aku takkan berhenti melangkah
’Cause I’m moving on

ku percaya nanti kan ada saatnya

cinta kan datang padaku lagi

13.9.10

The Fact of Recent Indonesia-Malaysia Clash Doesn't Important, Does It?

When we don't know the facts, we better shut our mouth up. Yes, I have just known the fact about the Indonesia-Malaysia clash recently (thanks to Mr. LI). Should I tell you the fact?

Like what is written on the subject above, the fact doesn't important. What is important is the feeling that we as Indonesian should be more superior than our brothers and sisters. Why is that? Compared to Malaysia, our country has many more useful sources to build this country to be one of the best in the world. Therefore, we should win the clash with Malaysia. Are we arrogant? Yes, we are. But do we need to be that arrogant? Definitely no! Despite the fact that Malaysia people sometimes treat our labor very bad, we shouldn't do the same thing they did.

As we know, we have the same ancestors with Malaysia people. We too have been working together for a long time, especially in economy and employment. There are some Malaysian investments in our country and vice versa. Also, the two countries are in the same region (South-East Asia) and have been working together to strengthen the region from foreign countries' invasion. If there's a clash between us and them, it would be dangerous not only for the two countries, but also for South-East Asia as a whole since the two countries are two of South-East Asia's booster. Even the clash could be a threat for the Moslems also, as the two countries are known to be two of few influential Moslem country in the world.

Therefore, regardless we as Indonesian know the fact or not, we shouldn't say no to Malaysia. May God hears my pray.

13.8.10

Cap Atau Label Pada Manusia

Sebuah cap ataupun label yang tertera pada sebuah benda bisa merupakan pemberitahuan mengenai siapa pembuat benda itu. Misal, kalau pada sebuah meja terdapat label "Ligna Furniture", maka meja tersebut pasti dibuat oleh "Ligna Furniture".

Sebuah cap ataupun label yang tertera pada sebuah benda bisa juga merupakan perwakilan dari suatu lembaga. Misal, kalau pada selembar surat terdapat cap "YPI Al-Azhar", maka penulis surat tersebut pasti mengatasnamakan dirinya sebagai wakil dari "YPI Al-Azhar".

Sebuah cap ataupun label yang tertera pada sebuah benda bisa juga menggambarkan sifat atau perilaku benda. Misal, kalau pada suatu bungkus makanan terdapat label "Halal", maka makan yang terbungkus di dalamnya pasti "Halal" (insya Allah).

Sebuah cap atau label yang tertera pada sebuah benda bisa juga menggambarkan bahwa pada benda tersebut dikenakan perilaku sesuai dengan tulisan pada cap atau label tersebut. Misal, kalau pada seekor sapi kurban terdapat cap "Terjual" atau cap serupa dengan maksud demikian, maka sapi tersebut pasti telah terjual kepada pembelinya.

Lantas, bagaimana jika sebuah cap atau label dikenakan terhadap seseorang? Jika seseorang mendapat cap atau label "Pemalas", apakah sudah pasti orang itu bersifat pemalas? Jika seseorang memperoleh cap atau label "Penjahat", apakah sudah pasti ia seorang penjahat?

Belum tentu. Untungnya pada manusia, pemberian cap atau label belum tentu menggambarkan sifat atau perilaku orang tersebut. Cap atau label terhadap seseorang kebanyakan dikenakan oleh orang lain yang bisa jadi tidak terlalu mengenal orang tersebut. Padahal tak selamanya cap atau label itu benar.

Namun sayangnya, terkadang karena banyaknya orang-orang yang memberikan cap atau label yang sama terhadap seseorang, ataupun karena kedekatan hubungan orang lain pemberi cap atau label tersebut dengan kita, bisa jadi kita ikut-ikutan memberikan cap atau label yang sama terhadap orang tersebut. Beberapa waktu belakangan ini, saya beberapa kali menjadi korban yang ikut-ikutan memberikan cap atau label yang tidak benar tersebut kepada beberapa orang. Astaghfirullah...

Semoga saya masih sempat mengucapkan kata maaf kepada mereka yang telah menjadi korban. Hingga saat ini, saya belum juga bisa menemukan solusinya. Ternyata sulit untuk tidak memberikan cap atau label apapun terhadap seseorang. Harus lebih banyak berlatih membersihkan hati dan pikiran.

24.7.10

Cerita (1-4)

"Eh, Rin.." Anda akhirnya memberanikan diri memancing percakapan, "kamu percaya, gak? Biasanya kalau lagi sedih tapi masih di jam kerja, saya suka keluar sebentar buat jalan-jalan."

Rini pelan-pelan mengangkat pandangannya ke arah Anda. Ia mencoba menyunggingkan bibirnya sedikit, sambil tangan kanannya tetap memainkan sendok kecil yang digenggamnya.

Melihat Rini menanggapi ucapannya, Anda melanjutkan percakapan tersebut, "Kamu mau ikut nemenin saya?"

Rini agak terkejut mendengar pertanyaan Anda. Ia tak mengira Anda akan berbuat demikian. Bukannya menjawab, Rini malah menyendokkan sepotong kecil chocolate sensation lagi ke dalam mulutnya. Pandangannya kembali tertunduk ke bawah, tapi kali ini ia tetap menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.

Anda tergelak melihat tingkah laku Rini. "Kalau kamu mau ketawa, ketawa aja. Mumpung ketawa belum dilarang."

Disinggung seperti itu, akhirnya Rini tergelak juga. Saking gelinya, ia sampai menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.

"Kamu merhatiin saya sampai segitunya?" Rini balik bertanya.

Anda merasa salah tingkah. Bukannya menanggapi Rini, ia malah melanjutkan memakan chocolate sensation-nya yang masih tersisa setengah piring. Digoyang-goyangkannya kedua kakinya, bermaksud menghilangkan kegugupannya di depan Rini.

Dalam hati Anda berkata, "Aneh. Gue baru sekali ketemu dia. Kenapa perasaan gue langsung deg-degan gini, ya? Ketauan salting lagi. Aduuuuuh... malu banget gue."

Keadaan menjadi hening sejenak. Anda dan Rini masing-masing melanjutkan memakan chocolate sensation yang tersisa hingga habis.

Setelah menghabiskan chocolate sensation bagiannya, Anda bangkit dari kursi untuk mengambil air mineral untuk dirinya sendiri sembari berkata kepada Rini, "Jadi, kamu mau nemenin saya?"

Ditanya seperti itu, Rini malah balik bertanya sambil tersenyum, "Bukannya saya, ya, yang lagi sedih? Kenapa saya yang nemenin kamu?"

Anda tertawa mendengar pertanyaan Rini. "Salah pertanyaannya, ya?" tanya Anda. "Saya balik, deh, kalau gitu. Jadi, kamu mau saya temenin jalan-jalan?"

Rini, yang juga sudah menghabiskan chocolate sensation-nya, menyeruput sisa jus strawberry yang tersisa. Setelah habis, tangan kanannya mengambil selembar tisu kertas dari tempatnya, kemudian mengelap bibirnya dengan tisu itu.

Setelah itu, Rini menolehkan pandangannya ke arah Anda sambil tersenyum. Kedua tangannya menopangkan dagunya di atas meja. Dirinya masih tidak habis pikir mengapa lelaki yang baru saja dikenalnya ini dapat mencairkan kebekuan hatinya.

Merasa tidak mendapat jawaban dari Rini, Anda akhirnya berkata, "OK, saya ke belakang dulu sebentar, ya."

Anda berjalan ke arah ruang khusus staff yang tepat berada di belakang meja kasir. Tangan kanannya meraih salah satu gelas kosong dari dereta gelas yang ditelungkupkan di atas meja, kemudian tangan kirinya menggenggam wadah kaca berisi air mineral di sebelah deretan gelas. Ia menuangkan air mineral dari wadah kaca itu ke dalam gelas, kemudian menenggaknya hingga habis.

Setelah itu, Anda berbisik kepada Aan, rekan kerjanya yang tadi membantunya menyediakan chocolate sensation, yang sedang berdiri di dekat situ, "An, jangan biarin dia bayar jus dan kuenya ya. Biar gue yang nanggung ntar."

Yang diajak berbicara malah tersenyum lebar sambil menepuk lengan atas kiri rekannya.

Anda memasuki ruang khusus staff. Ia berjalan menuju locker yang bertuliskan namanya, "Andarista Hadiwibawa." Ia membuka locker tersebut dan perlahan melepaskan celemek seragam yang wajib dikenakannya apabila sedang dalam jam kerja, kemudian menggantungkannya di gantungan baju dengan rapi seperti semula.

Setelah menutup locker tersebut, Anda berjalan ke arah wastafel. Pandangannya mengarah ke cermin yang ada di atas wastafel. Ia tersenyum sejenak, membayangkan apa yang baru saja dilakukannya pada Rini. Tak lama kemudian, tangan kanannya mengeluarkan sisir kecil yang biasa ia letakkan di kantung belakang celananya, kemudian menyisir rambut ikalnya agar terlihat sedikit lebih rapi.

Setelah merasa penampilannya sudah cukup rapi, Anda berjalan keluar dari ruang khusus staff, langsung menuju meja kasir. Rupanya sedikit terjadi perdebatan antara Rini dengan Aan di sana. Rini bersikeras membayar jus strawberry dan chocolate sensation yang dihabiskan olehnya. Sementara itu, Aan berkali-kali mengatakan bahwa Rini tidak perlu membayarnya.

Anda mengangguk ke arah Aan, kemudian berkata kepada Rini, "Ya udah. Nanti kamu bayar ke saya aja sambil kita jalan-jalan."

Rini menatap Anda dengan pandangan aneh. "Biasanya juga pengunjung selalu membayar pesanannya sebelum keluar cafe, kan?"

"Sekarang lagi luar biasa, Rin," kata Anda sambil tersenyum. "Makanya kamu bayarnya nanti aja langsung ke saya. Sama aja, kan?"

"Tapi saya tetap harus bayar, ya?" tanya Rini sambil agak tergelak. "Kasian nanti cafe-nya kalau ga dibayar. Nanti kamu dan temen kamu ga bisa gajian."

Anda langsung menggiring Rini keluar cafe sambil berkata, "Beres, Bu," katanya.

Sambil menggiring Rini, Anda melirikkan pandangannya ke arah Aan. Tangan kanannya mengacungkan jempol ke arah Aan sambil tersenyum lebar dan mulutnya mengisyaratkan ucapan "thank you" kepada rekan kerjanya itu.

Bersambung

Previous Next