29.5.10

Menaruh Telur-Telur Di Beberapa Wadah

Kata orang-orang, sebaiknya kita menaruh telur-telur yang kita punya tidak hanya dalam satu wadah saja.

Namun, untuk menaruh telur-telur lainnya di wadah yang lain, apakah pada wadah perlu ada rasa aman dan nyaman?

Ataukah hanya perlu mengambil resiko saja tanpa peduli wadah itu harus aman dan nyaman?

Just a random thought...

2.5.10

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Seorang teman bertanya kepada saya dalam suatu perjalanan, "Al, kalo lo jadi si H yang dapet tawaran di kota S itu, gimana?"

Ada teman kami, H, yang baru saja mendapat offering dari salah satu perusahaan di Kota S, salah satu kota di Pulau Jawa. Offering-nya cukup menarik, berupa posisi yang lumayan menjanjikan diiringi dengan iming-iming gaji yang tidak bisa dibilang kecil.

Saya pun menjawab, "Kalo gue jadi dia, gue ambil kayanya. Lumayan banget soalnya."

Teman saya itu pun balik menimpali, "Iya, sih! Dengan gaji gede dan biaya hidup di sana yang ga terlalu besar, pasti bisa nabung banyak banget. Tapi, kalo gue jadi dia, gue bakal pikir-pikir lagi deh, Al."

"Emang kenapa, D?"

"Gue mikirin buat pendidikan anak gue ntar. Jakarta jauh lebih bagus pendidikannya dibandingin Kota S. Lebih kompetitif."

Terus terang, saya tidak berpikir ke arah sana sewaktu saya melontarkan jawaban saya di atas. Kemudian, saya pikir ulang lagi tentang jawaban teman saya itu. Tepatkah apa yang dikatakannya?

Dengan melihat kenyataan saat ini, jawaban teman saya memang masuk akal. Fakta yang saya tahu (walaupun saya belum pernah melihat data statistiknya), nilai rata-rata ujian negara setingkat SD, SLTP, dan SLTA untuk sekolah-sekolah di daerah Jakarta biasanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya di luar ibukota Indonesia ini. Bahkan di daerah-daerah yang jauh jangkauannya dari Jakarta, nilai rata-ratanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata nasional. Sedih memang, tapi demikianlah kenyataannya.

Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa hal ini dapat terjadi? Pertama, Jakarta bisa dibilang salah satu kota terbesar di Indonesia saat ini. Bagaimana tidak? Sebagai ibukota negara, Jakarta bisa dibilang memiliki fasilitas belajar dan mengajar cukup lengkap (kalau tidak mau dibilang paling lengkap) dibandingkan dengan kota-kota laiinya, apalagi kota-kota di luar Pulau Jawa. Hal ini adalah wajar, karena menurut saya yang namanya ibukota itu agak aneh kalau tidak dilengkapi dengan fasilitas dan infrastruktur yang memadai.

Kedua, adanya dukungan modal yang memadai dari berbagai pihak yang berkepentingan. Entah itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, ataupun pihak swasta yang bergerak di industri pendidikan. Kalau dari pihak swasta, saya kira tidak terlalu perlu dipusingkan. Begitu juga kalau dari pemerintah daerah, karena memang sudah sewajarnya pemerintah daerah memberikan porsi yang cukup besar untuk sektor pendidikan di daerahnya, demi memajukan bangsa dan negara. Yang agak mengherankan ialah kalau yang datang dari pemerintah pusat. Saya memang berasumsi di sini, bahwa karena Jakarta adalah ibukota negara, maka pemerintah mengalokasikan budget yang paling besar untuk kota ini, melalui pemerintah daerah. Bagaimana mekanisme persisnya saya kurang tahu. Akan tetapi, begitulah kesan yang saya tangkap selama ini.

Ketiga, kesadaran berpendidikan yang cukup tinggi di kota Jakarta lebih besar dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia, terutama jika dibandingkan dengan daerah Indonesia bagian timur. Bukan berarti saya mengecilkan warga Indonesia di luar Jakarta dan Pulau Jawa. Namun, pada umumnya anak-anak di luar Pulau Jawa tidak terlalu menganggap penting pendidikan. Yang penting bagi mereka ialah bagaimana agar keluarga mereka bisa menyambung hidup hari ini dan keesokan harinya.

Mungkin masih banyak faktor lainnya yang dapat menjadi latar belakang ketimpangan pendidikan di Indonesia. Namun, saya rasa cukup untuk membahas masalah ini dengan melihat ketiga faktor tersebut. Faktor pertama dan kedua menurut saya wajar terjadi. Adalah tidak mungkin bahwa sebagai ibukota negara, Jakarta menjadi anak tiri yang ke sekian di Indonesia. Untuk segala sesuatunya, Jakarta harus selalu menjadi si kota nomor 1 di Indonesia. Bahkan Batam pun tidak bisa mengalahkan Jakarta, walaupun Batam sudah menjadi salah satu kota maju berkat hadirnya industri-industri besar di sana.

Apakah tidak mungkin jika daerah lainnya mendapatkan hal yang sama dengan apa yang didapatkan Jakarta? Sangat mungkin! Setiap daerah itu berhak, kok, mendapatkan apa yang selama ini diperoleh Jakarta. Namun, mengapa hingga saat ini hanya Jakarta saja yang bisa seperti ini? Saya tidak bermaksud mengecilkan kota-kota lainnya. Hanya saja Jakarta memang terlihat lebih "wow" jika dibandingkan dengan Bandung misalnya, yang notabene tidak bisa dikatakan kota kecil. Di mana letak sila kelima dari Pancasila "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia"?

Kalau memang Jakarta mendapatkan segalanya adalah karena dia merupakan ibukota negara, tidak bisakah jika Indonesia melakukan rotasi ibukota negaranya? Cukup 5 tahun sekali, seperti Pemilu itu. Kalau memang pola berpikirnya ialah ibukota negara haruslah memiliki segala-galanya yang terbaik, paling tidak pemerintah pusat bisa berpikir untuk memindahkan ibukota negara ke kota lain. Saya tahu ini tak mungkin dilakukan. Di negara mana pun tidak mungkin ada negara yang berganti ibukota setiap beberapa periode sekali.

Lantas, bagaimana caranya agar bisa memberikan keadilan yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia? Mungkinkah jika memberlakukan alokasi dana pembangunan dari pemerintah pusat untuk setiap daerah secara berbanding terbalik? Dengan memberikan alokasi dana yang lebih besar untuk daerah yang lebih "tertinggal"? Hal ini mungkin bisa menjadi pemikiran di masa yang akan datang. Namun, apakah dengan hal ini saja sudah cukup?

Belum. Perlu juga untuk menyelesaikan masalah untuk faktor yang ketiga. Ya, perubahan pola pikir pada sebagian masyarakat Indonesia, bahwa pendidikan itu juga merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan mereka. Bahkan, pendidikan dapat dijadikan suatu media untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Bagaimana cara merubah pola pikir sebagian masyarakat Indonesia ini?

Tentunya setiap daerah pasti memiliki paling tidak sedikit orang-orang dengan potensi yang cukup baik di daerahnya. Sebagai contoh, Kalimantan punya Fadel Muhammad. Sulawesi ada Jusuf Kalla. Dan masih banyak orang-orang berpotensi lainnya di daerah masing-masing. Orang-orang seperti inilah yang sebisa mungkin diberdayakan untuk merubah pola pikir masyarakat di daerahnya, menanamkan kesadaran dalam diri mereka bahwa pendidikan itu sangat penting. Mereka perlu memprakarsai perbaikan dan peningkatan kuantitas dan juga kualitas pendidikan di daerahnya masing-masing. Bagaimana caranya?

Jika orang-orang berpotensi ini memiliki sokongan dana modal yang cukup, mereka dapat berinvestasi membangun berbagai fasilitas dan infrastruktur pendidikan di daerahnya. Jika orang-orang berpotensi ini tergolong orang yang berpengaruh, mereka bahkan dapat menggunakan pengaruh tersebut untuk mengajak masyarakat di daerahnya agar mereka dapat dan ingin mengenyam pendidikan yang setinggi-tingginya. Bukan hanya untuk kepentingan perbaikan taraf hidup keluarga mereka, tapi juga untuk membangun daerahnya sendiri agar di kemudian hari dapat menjadi lebih mandiri. Orang-orang berpotensi inilah justru yang diharapkan dapat melakukan hal-hal yang bersifat persuasif, sehingga masyarakat di daerahnya dapat termotivasi untuk juga mengutamakan pendidikan dalam kehidupan mereka, tidak sekedar menyambung hidup semata.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. Di Hari Pendidikan ini, marilah kita bermimpi agar Indonesia dalam 25 tahun yang akan datang dapat memiliki ahli bedah syaraf, ahli nuklir, ahli biogenetik, ahli otomotif, dan sebagainya. Demi Indonesia Yang Lebih Baik!

25.4.10

The Beatles

Have I written about one of my favourite band? Yep! I do love The Beatles. I heard The Fab Four (the band's other name) for the first time when I was in kindergarten. My father liked to play its CDs. You know? That time I knew that I've already fallen in love with the song 'Hey Jude', one of many greatest songs sung by the band.

I forgot when The Beatles is known for the first time. The youngsters are firstly known as The Quarry Men. I forgot who the personnel were, but John Lennon, Paul McCartney, and George Harrison are already in the band. Then they changed the band name to The Silver Beatles. At last, the youngsters are known as The Beatles.
In the beginning, the formation of the group were George as lthe lead guitarist, John Lennon as the rhythm guitarist, Paul as the bassist, and Pete Best as the drummer. But then, Ringo Starr came to replace Pete. Sometimes John and Paul played piano. The four of them are capable of singing.

They released the first single 'Love Me Do' in 1962. You know what? All the gilrs fell in love with The Fab Four. Everytime the band showed up, they were screaming. The band's haircut is followed by every youngsters. Here is the picture of the band when it was known for the first time.


After that, everytime the band played in concerts, anywhere, the girls always followed them, full of hysteria. They were screaming for The Fab Four name. The time goes by, followed by many hits songs like 'A Hard Days Night', 'Help!', and many more, until one time in mid 1960's. The band decided not to play in front of the public anymore. They were affraid that they were famous not only because of their creativity, but only because of theirselves (they were so gorgeous and handsome, I know).

The Beatles then try to add another feature in their music. They once went to India. But not for a long time, one by one got back to England. First Ringo, and then followed by Paul and John. Only George who stayed longer in India. After this, many of the band hits are influenced by Indian music. This too was known as the starting of the band's break up.

In 1966/1967 (I forgot the exact year), they made a surprise by performing on the rooftop. They sang 'Get Back', 'Don't Let Me Down', and 'I've Got A Feeling'. That was the first performance after they decided to stop performing in front of the public. The fans were stunned.




As the time goes by, there were many fights in the band, mostly between John and Paul, who were known as the band's frontmen. John often didn't show up at the band's practice time when Paul was there. When John was there, it was Paul who was not coming.

At last in late 1960's, the band decided to break up. They were performing alone as theirselves, sometimes with their new band and sometimes alone. John with Plastic Ono Band, Paul with The Wings, George and Ringo by theirselves.

In 1980, the world was stunned by John's death. He was assassinated by Mark Chapman in front of his apartment. The Beatles fans felt blue suddenly. A tragical murder by a lunatic fan.

In mid 1990's, The Anthology album was released. The fans were hoping for the band reunion. But Paul, George, dan Ringo were not intended to do so, although they were happy that they could play together again. In the album, there were two songs which John's recorded voice was complemented by Paul, George, and Ringo's performance.

In 2001, George passed away after his struggle from cancer. With only Paul and Ringo left, there's no possibility of the band's reunion. But sometimes they play together and help each other in other's album release.

20.3.10

Cerita (1-3)

Coklat cair di dalam mulut Rini terasa semakin melumer seiring dengan mulai mencairnya suasana hatinya. Ingin rasanya berlama-lama menahan untuk tidak menelan cokelat cair itu.

"Kue coklatnya enak banget, Mas," Rini akhirnya memulai percakapan dengan kalimat agak panjang.

Anda menyodorkan tangan kanannya, mengajak bersalaman, "Panggil Anda aja. Itu resep asli dari saya, lho! Namanya Chocolate Sensation."

Rini menjabat tangan kanan Anda, "Rini."

"Iya," Anda melanjutkan ceritanya. "Ibu saya yang ngajarin bikin kue ini. Dulu, waktu saya coba buatannya pertama kali, saya langsung teriak, 'Enak banget, Ma! Ajarin Anda cara bikinnya, ya?' Langsung dia kasih resepnya ke saya."

Rini menyunggingkan senyum di bibirnya. Tak terasa dia sudah menyendokkan beberapa potong Chocolate Sensation ke dalam mulutnya. Namun, tatapan matanya masih mengisyaratkan kesedihan, sesuatu yang masih menjadi suara hatinya saat itu.

Anda tertawa perlahan sambil berkata,"Rin, kamu itu lucu, ya?"

Rini sedikit tergelak, kemudian balik bertanya, "Emangnya saya kenapa? Kayanya saya ga ngelakuin hal yang bikin orang lain ketawa, deh."

"Ga, sih," jawab Anda. "Kamu ketawa di luar. Tapi, sebenernya kamu masih keliatan sedih."

Rini langsung terdiam. Pandangannya kembali tertunduk ke piring Chocolate Sensation yang tinggal seperempat porsi.

Anda langsung merasa bersalah. "Maaf, Rin," katanya, "saya ga bermaksud untuk ngingetin kamu ke hal yang bikin kamu sedih."

"Ga apa-apa, Nda," jawab Rini sambil berusaha untuk tersenyum. "Bukan salah kamu, kok."

Suasana di meja itu sempat hening sejenak. Rini masih sibuk mengatur suasana hatinya yang masih campur aduk. Tangan kanannya memainkan sendok kecil untuk memakan Chocolate Sensation, sementara tangan kirinya masih menopang dagunya. Pandangannya masih tertuju ke bawah.

Anda pun terlihat salah tingkah, merasa tidak enak karena mengira dirinya telah melakukan suatu kesalahan. Berbeda dengan Rini, Anda malah memalingkan wajahnya, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, seolah-olah sedang mencari sesuatu. Kedua tangannya diselipkan ke dalam saku celananya, kebiasaannya kalau sedang gelisah.

Bersambung

Previous Next

17.3.10

Postingan Tidak Jelas

Allow me to use bahasa in its informal form.. Heheh..

Kemaren, waktu lagi jalan pulang setelah bersenang-senang sehari dengan beberapa temen, mereka semua kaya ngebujuk gue biar ga pulang ke rumah. Sebenernya gue ga tau apakah mereka serius atau becanda. Tapi gue beneran hampir tergoda buat pulang ke rumah esok harinya. Untungnya gue masih bisa nahan diri. Heheh..

Di tengah ajakan pulang itu, ada yang bilang (intinya kira-kira gini), "Ayo, Ya. Kasian kalo ibu kamu ngebukain pintu malem-malem. Bapak juga, kan dia besok pagi harus kerja."

Yes, he said that word that rings a bell in my head. Fiuhhhhh.. Langsung gue diem ga tau mau ngomong apa. Langsung inget kalo gue belum sempet jenguk dia lagi. Mungkin gue bakal nyempetin ngelakuin hal itu di sela-sela off gue minggu ini.

Hari ini, nyokap bilang ke gue kira-kira gini, "De', mumpung kamu lagi di rumah, ibu pengen dianterin buat ngurus STNK. Tapi ibu pengen beres-beres ruang kerja bapak juga."

Yes, she too rang the bell. Gue ga jawab apa-apa. Cuma pada akhirnya gue jalan menuju ruang kerja bokap. Dimulai dari ngeliat tumpukan-tumpukan kertas dan buku-buku di lantai, gue memilah-milah mana yang termasuk sampah dan mana yang kira-kira masih bisa dipake. Gue pisahin yang masih bisa dipake ke tumpukan deket lemari biar ntar langsung dimasukin ke dalamnya. Yang tergolong sampah gue taro di deket pintu.

Sampai gue liat foto bokap gue dengan baju toga kebesarannya, nemenin sang rektor foto bareng-bareng sama pejabat kampus lainnya juga, waktu acara wisudaan. Sebenernya gue masih kesel waktu liat unsur-unsur kampus itu. Tapi ya udah lah. Ga guna juga gue maki-maki mereka, even di dalem hati. Yang udah lewat biarin lewat.

And then, gue nemu semacem buku-buku lokakarya nasional penyusunan program mata kuliah TI. Damn! So my dad was one of important people behind the scene. Capek juga ya pasti jadi dia. Udah ngajar, jadi konsultan, jadi orang penting pula.

Minggu off ini ternyata bener-bener minggu buat dia. Ga apa-apa deh, sekali-sekali ngabisin waktu berdua. Semoga dia happy, gue pun senang. Hahahaha! Bener-bener postingan yang aneh.

24.1.10

Cerita (1-2)

Anda dengan sengaja berdeham, "Ehm... ehm...".

Masih hening tanpa suara. Bahkan Rini tidak menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah asal suara. Pandangannya tetap tertunduk, seakan di meja itu tergambar sesuatu yang menarik perhatiannya. Padahal, alam pikirannya melayang entah kemana.

Tahu dirinya kembali tak digubris, Anda akhirnya bertindak nekad. Dengan perlahan, ia menarik kursi yang tepat berada di hadapan Rini, kemudian duduk di kursi itu. Tangan kanannya meletakkan sepiring chocolate sensation yang sedari tadi dipegang olehnya. Tak lama kemudian, dagunya telah tertopang oleh kedua tangannya.

"Ga lapar?" Anda memberanikan diri memulai percakapan.

Perlahan tatapan mata Rini bergerak, mulai dari arah meja yang kosong hingga menuju chocolate sensation yang ada di hadapannya. Kemudian, kepalanya menoleh ke arah Anda. Perlahan Rini menyunggingkan bibirnya, tersenyum ke arah Anda.

"Saya ga pesan apa-apa," Rini akhirnya menanggapi pertanyaan Anda.

Anda mengangkat tangan kirinya, menggaruk-garuk kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam ikal. Pandangnya langsung tertuju ke sekeliling, terlihat bahwa dirinya salah tingkah.

Sementara itu, masih dengan tersenyum, Rini mendorong piring chocolate sensation ke arah Anda. "Mungkin kamu salah orang, ya?" tanyanya kepada Anda.

"Mungkin juga ga," jawab Anda dengan suara sedikit bergetar. "Kamu udah hampir satu jam di sini. Cuma pesan segelas jus strawberry tanpa makanan apa pun. Jadi, biar jusnya ga kesepian, saya tawarin kue cokelat ini buat nemenin."

Tangan kanan Anda mendorong piring chocolate sensation itu kembali ke depan Rini. Dagunya kembali tertopang, kali ini hanya oleh tangan kirinya, sementara tangan kanannya diletakkan di atas meja.

"Ini buat saya?" Rini bertanya kepada Anda.

Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya, tetap tertopang di tangan kirinya. Anda tersenyum, mengetahui pada akhirnya suasana bisa agak cair. Tatap matanya tak lepas dari wajah cantik Rini.

Dalam benaknya, Anda masih tidak habis pikir, mengapa perempuan itu bisa termenung seorang diri selama hampir satu jam di cafe tempatnya bekerja. Biasanya, seseorang yang pada awalnya duduk sendirian di cafe itu memerlukan waktu yang tidak lama hingga datang orang lain yang menemaninya menghabiskan waktu di sana. Namun, tampaknya tidak demikian adanya dengan Rini.

Rini masih tersenyum ketika ia berucap, "Terima kasih, ya. Saya emang lapar. Tapi, sebenarnya saya ga nafsu untuk makan apa pun."

Akal pikiran Anda mulai bekerja.

"Gimana kalau saya temenin?" tanya Anda, lebih berani dari sebelumnya.

Anda mengangkat tangan kanannya sambil mengarahkan pandangannya ke arah rekan kerjanya yang berada di balik meja etalase, mengisyaratkan agar rekan kerjanya mengambilkan sepiring chocolate sensation untuk dirinya. Rekan kerjanya paham. Dengan sigap, ia menyiapkan sepiring kue cokelat itu, kemudian membawanya ke arah Anda.

"Thank you, An," Anda berkata pada rekan kerjanya. Yang diajak bicara hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah Anda.

Anda mulai memegang sendok kecil di atas piring chocolate sensation di hadapannya, kemudian menyendokkan sesuap kecil potongan kue itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyah kue itu dengan perlahan sambil matanya tetap memandang ke arah Rini.

"Ayo dimakan kuenya," kata Anda. "Kan udah saya temenin."

Rini terdiam, masih tertegun oleh kesupelan Anda. Tampaknya Anda sedikit banyak telah berhasil mencairkan suasana hatinya yang tak menentu sejak seminggu yang lau. Perlahan ia ikut menyendokkan kue cokelat di hadapannya.

Bersambung...

Previous Next

1.12.09

Kegalauan Sang Raga

Kala raga menyatu dengan hiruk pikuk keramaian
Namun sang raga tak bergeming dari kesendiriannya
Salah tempatkah sang raga?
Atau salah sang keramaian karena egois tak berempati?

Kala raga menyendiri dalam kesunyian
Namun lubuk hatinya tak juga merasakan ketenangan
Salah tempatkah sang raga?
Atau salah sang kesunyian karena tak sanggup menentramkan?

Kala raga melangkahkan diri dalam kelurusan
Namun jiwa sang raga tetap merasa berlekuk
Salahkah tingkah dan laku sang raga?
Atau salah sang kelurusan karena tak dapat meluruskan jiwanya?

Ada apakah dengan sang raga?
Apa salah sang raga
Hingga ia tak pernah bisa merasa tepat?