Namun, untuk menaruh telur-telur lainnya di wadah yang lain, apakah pada wadah perlu ada rasa aman dan nyaman?
Ataukah hanya perlu mengambil resiko saja tanpa peduli wadah itu harus aman dan nyaman?
Just a random thought...
This blog is about Aliya Paramitha's life, opinion, writings, etch. Some content in this blog is written in English and some in Indonesian.

After that, everytime the band played in concerts, anywhere, the girls always followed them, full of hysteria. They were screaming for The Fab Four name. The time goes by, followed by many hits songs like 'A Hard Days Night', 'Help!', and many more, until one time in mid 1960's. The band decided not to play in front of the public anymore. They were affraid that they were famous not only because of their creativity, but only because of theirselves (they were so gorgeous and handsome, I know).
The Beatles then try to add another feature in their music. They once went to India. But not for a long time, one by one got back to England. First Ringo, and then followed by Paul and John. Only George who stayed longer in India. After this, many of the band hits are influenced by Indian music. This too was known as the starting of the band's break up.
In 1966/1967 (I forgot the exact year), they made a surprise by performing on the rooftop. They sang 'Get Back', 'Don't Let Me Down', and 'I've Got A Feeling'. That was the first performance after they decided to stop performing in front of the public. The fans were stunned.

Di tengah ajakan pulang itu, ada yang bilang (intinya kira-kira gini), "Ayo, Ya. Kasian kalo ibu kamu ngebukain pintu malem-malem. Bapak juga, kan dia besok pagi harus kerja."
Yes, he said that word that rings a bell in my head. Fiuhhhhh.. Langsung gue diem ga tau mau ngomong apa. Langsung inget kalo gue belum sempet jenguk dia lagi. Mungkin gue bakal nyempetin ngelakuin hal itu di sela-sela off gue minggu ini.
Hari ini, nyokap bilang ke gue kira-kira gini, "De', mumpung kamu lagi di rumah, ibu pengen dianterin buat ngurus STNK. Tapi ibu pengen beres-beres ruang kerja bapak juga."
Yes, she too rang the bell. Gue ga jawab apa-apa. Cuma pada akhirnya gue jalan menuju ruang kerja bokap. Dimulai dari ngeliat tumpukan-tumpukan kertas dan buku-buku di lantai, gue memilah-milah mana yang termasuk sampah dan mana yang kira-kira masih bisa dipake. Gue pisahin yang masih bisa dipake ke tumpukan deket lemari biar ntar langsung dimasukin ke dalamnya. Yang tergolong sampah gue taro di deket pintu.
Sampai gue liat foto bokap gue dengan baju toga kebesarannya, nemenin sang rektor foto bareng-bareng sama pejabat kampus lainnya juga, waktu acara wisudaan. Sebenernya gue masih kesel waktu liat unsur-unsur kampus itu. Tapi ya udah lah. Ga guna juga gue maki-maki mereka, even di dalem hati. Yang udah lewat biarin lewat.
And then, gue nemu semacem buku-buku lokakarya nasional penyusunan program mata kuliah TI. Damn! So my dad was one of important people behind the scene. Capek juga ya pasti jadi dia. Udah ngajar, jadi konsultan, jadi orang penting pula.